PT Astra Daihatsu Motor (ADM) menyajikan dua opsi transmisi pada Sigra, manual dan otomatis. Uniknya, di era serbapraktis ini, versi manual lima percepatan masih menjadi primadona di Tanah Air. Bahkan jumlah perbandingan populasinya begitu kontras. Begini penjelasan Amelia Tjandra, Direktur Marketing PT ADM, dalam menanggapi fenomena tadi.
"Betul, hingga saat ini, Sigra bertransmisi manual lebih laku ketimbang yang otomatis. Bahkan memberi sumbangsih sebesar 95 persen, sementara yang automatic hanya 5 persen," ungkap Amelia.
Ia menjelaskan, kontrasnya jumlah penjualan disebabkan selisih harga yang lumayan jauh. Nominalnya bahkan berbeda Rp 10 juta. Mungkin hal ini bukan hal signifikan bagi kaum berduit. Nyatanya, bagi konsumen LCGC, ini angka yang dinilai besar. Karena rata-rata pembelinya baru mau memiliki mobil pertama. Jadi, persoalan nilai ekonomis sangat mempengaruhi pilihan mereka. Sama logikanya dengan versi 1.0 liter yang tetap dipertahankan.
Apa yang dikemukakan cukup masuk akal. Ditambah lagi, menurut kami transmisi otomatis Sigra pun tak begitu spesial. Tenaga yang cenderung standar malah membuat momentum gerak kurang impresif ketimbang versi manual. Bisa jadi hal ini juga mempengaruhi pilihan konsumen.
Di samping itu, beberapa waktu lalu varian Sigra otomatis sempat mengalami masalah dalam ketersediaan unit. Konsumen perlu inden agak lama untuk meminangnya. Ternyata hal ini diakibatkan oleh vendor transmisi yang masih diimpor langsung dari Jepang.
"Sigra ini TKDN-nya (Tingkat Komponen Dalam Negeri) 94 persen. Urusan transmisi dan yang berhubungan pada gear masih diimpor langsung dari Jepang. Karena seluruhnya harus dibuat presisi. Sementara, beberapa waktu lalu, kapasitas pabrik di sana sedang mengalami permintaan yang banyak, sehingga tak dapat mengimbangi. Namun ini hanya terjadi sebentar saja, kami pastikan persoalan selesai di Oktober," katanya.
Kalau membuat pabriknya sendiri di Indonesia, faktor biaya jadi pertimbangan utama mereka, karena volume penjualannya belum dinilai cukup. "Untuk membuat harganya affordable, volumenya harus mencukupi dulu. Minimal dua juta unit. Sedangkan di sini pasarnya baru mencapai satu juta. Jelas lebih murah impor daripada bikin dan investasi pabrik. Tak menutup kemungkinan kalau pasarnya bisa tumbuh. Semisal sudah mencapai tiga juta, baru bisa dipertimbangkan," tambahnya.
Mengenai target penjualan, ADM memilih tak menaikkannya, sama saja dengan tahun lalu. Dikarenakan tren otomotif secara general sedang mengalami penurunan. Walaupun, kontribusi LCGC Daihatsu, khususnya Sigra, naik dari tahun lalu. Terakhir, pembagian komposisi produksi dengan kembarannya, Toyota Calya, tidak diatur secara pasti. Amel menjelaskan, semuanya tergantung permintaan konsumen saja. "Kalau permintaan Calya lebih banyak, ya produksi. Kalau ternyata Sigra, tinggal sesuaikan saja. Tidak ada komposisi khusus, tergantung demand saja," tutupnya. (Hel/Odi)
Baca Juga: Daihatsu Sigra 1.000 cc Masih Banyak Peminatnya
Bisnis - Terkini - Google Berita
September 17, 2019 at 05:32PM
https://ift.tt/305hUte
Daihatsu Sigra Manual Masih Jadi Primadona, Ini Alasannya | Oto - Oto
Bisnis - Terkini - Google Berita
https://ift.tt/34Gk0OK
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Daihatsu Sigra Manual Masih Jadi Primadona, Ini Alasannya | Oto - Oto"
Post a Comment